Prostitusi di Jepang biasa disebut Fuzoku (industri seks komersial)

Prostitusi di Jepang biasa disebut Fuzoku (industri seks komersial) biasanya tidak jauh dari mandi sabun (soapland), cewek panggilan atau sering disebut Deriheru, dan sebagainya, kini turun harga, menjadi lebih murah dibandingkan 20 tahun lalu. Demikian hasil penelusuran Tribunnews.comdi Tokyo seminggu terakhir ini.

Menurut tabloid Nikkan Gendai  terbitan 9 Juli lalu, kini dengan kenaikan harga minyak pengharum, setiap toko permandian demikian harus menambahkan biaya pengeluaran sekitar 300.000 yen sebulan atau sekitar Rp 358 miliar (kurs Rp 119 per yen).

Seorang jurnalis yang khusus meliput industri seks di Jepang, Yukio Murakami , juga membenarkan kelesuan bisnis seks Jepang saat ini, “Bisnis seks di Tokyo khususnya sudah melemah sekali, harga-harga jatuh, benar-benar sulit saat ini.”

Penurunan tarif industri seks ini termasuk pula sukebe isu (kursi raba, biasa dipakai untuk mandi sabun). Demikian pula krim pijat, minyak pijat, cairan untuk mandi, udara untuk matres, serta berbagai kebutuhan dalam melayani tamu di toko mandi sabun, semua meningkat mahal saat ini.

“Kenaikan harga bukan hanya soal produk saja, tetapi pengantaran pulang para wanita pekerja seks ke rumahnya juga meningkat mahal, mulai jasa yang semakin mahal, bensin tambah mahal dan sebagainya.”
Berdasarkan hasil penelusuran Tribunnews.com, di atas semuanya itu, sebenarnya perekonomian Jepang saat ini menjadi dasar kelesuan industri seks di Jepang. Jumlah konsumen berkurang semakin malas mengeluarkan uang. Hal ini ibarat sudah jatuh ketimpa tangga. Belum lagi masuknya wanita asing ke Jepang khususnya Cina dan Korea yang semakin banyak menawarkan murah dirinya menjadi prostitusi.
Itulah sebabnya berbagai toko seks di Jepang khususnya yang bertarif sekitar 25.000 yen atau Rp 2,9 juta (kurs Rp 119 per yen) untuk sekali permainan dengan wanita sudah semakin tertekan lagi karena harga atau tarif bermain seks semakin jatuh saat ini.

Cara lain untuk mengurangi berbagai biaya pengeluaran toko dengan mengurangi anggaran makan para peserja seksnya. Demikian pula mengurangi komisi shimei  (tamu yang datang berulang). Kini hanya wanita yang top ranking, paling banyak menghasilkan uang bagi perusahaan, akan dapat pelayanan kecantikan gratis, misalnya potong rambut gratis, perawatan muka gratis, dan sebagainya.

Murakami juga mengungkapkan bahwa komisi bagi para pekerja seks saat ini turun dari 60 persen menjadi 50 persen, ”Bahkan para manajernya kini mulai menundukkan kepala meminta maaf kepada para wanita pekerja seks dan mengatakan kalau bisnisnya sudah bagus lagi, maka komisi buat mereka akan dinaikkan kembali

Posting Komentar