Prostitusi di Jepang biasa disebut Fuzoku (industri seks komersial)

Prostitusi di Jepang biasa disebut Fuzoku (industri seks komersial) biasanya tidak jauh dari mandi sabun (soapland), cewek panggilan atau sering disebut Deriheru, dan sebagainya, kini turun harga, menjadi lebih murah dibandingkan 20 tahun lalu. Demikian hasil penelusuran Tribunnews.comdi Tokyo seminggu terakhir ini.
Tampak sekali perubahan suasana industri seks di Jepang saat ini yang semakin sulit, di samping semakin banyak masuknya pekerja seks China dan Korea. Terbukti dengan penggerebekan yang dilakukan polisi 27 Oktober lalu di kawasan prostitusi Yoshiwara Taito-ku Tokyo akhir Oktober lalu.

Direktur Utama Sun World Holdings, Nobuo Komatsuzaki (67) yang menamakan grupnya, Orange Group,  memiliki delapan tempat mandi sabun, eksekutif Riichi Hasukawa (51) dan 37 karyawannya ditangkap polisi karena melanggar UU anti prostitusi.

Sumber Tribunnews.com mengungkapkan saat ini toko pemandian tersebut mulai melanggar etika bisnis seks dengan menjatuhkan tarif menjadi 15.000 yen atau Rp 1,7 juta (kurs Rp 119 per yen) untuk 15 menit. Hal ini bisa dilakukan kemungkinan karena penggunaan orang asing China atau Korea, ”Di samping itu tentu juga karena kecemburuan toko lain yang melihat grup tersebut semakin agresif dan banyak penghasilan dengan cara-cara semakin tidak etis.”

Bisa dibayangkan kecemburuan industri seks lain karena sejak April 2010 hingga kini grup Orange group tersebut telah berhasil mengumpulkan pendapatan sekitar 10,1 miliar yen. Penghasilan luar biasa untuk sebuah industri seks di Jepang saat ini di tengah perekonomi yang lesu

Posting Komentar